“RencanaNya Memang Selalu Indah”


Saat smp tak sekali aku mendengar kedua orang tua ku bertengkar memecahkan keheningan malam, saat itu selalu saja tidurku terusik..
Dengan umurku yang masih terbilang kecil, karena saat itu aku masih berumur sekitar 13 tahun. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menitihkan air mata dengan hanya ditemani boneka-boneka  di kamar yang menjadi tempat ternyamanku saat itu. Aku tak berani menceritakan apapun dan pada siapapun tentang hal itu. Entah kepada kakakku apalagi sampai bertanya langsung pada orang tuaku.
Entah kenapa aku menjadi saangat lemah perihal keluarga, tak satu kata pun mampu ku ucapkan ketika ada saudaraku yang bertanya bagaimana kondisi kedua orangtuaku, mungkin saudaraku sudah tahu perihal keributan yang sering terjadi pada orangtuaku. Tentang keadaan ekonomi selalu menjadi perdebatan mereka dengan kondosi ayahku yang memiliki perkerjaan tak pasti.
Aku kira seberjalannya waktu kondisi keluargaku akan membaik, tapi ternyata Allah berkehendak lain.
Saat aku telah menduduki bangsku SMK, tepatnya saat semester 1 di kelas 11.
Tentang hal itu aku tak mendengar langsung dari ayah atau ibuku, melainkan aku mendengar percakapan meereka yang berlangsung lewat telfon karena saat itu ayahku tidak lagi tinggal bersama aku dan ibuku, tepat tengah malam ibuku memutuskan untuk berpisah dengan ayah ku, jelas air mata tak dapat lagi aku bendung, menangis sejadi jaidinya sampai sesak dan sulit untuk bernafas, selalu ditempat yang sama di kamar tidurku , mungkin kamar itu sudah menjasdi tempat ternyaman untuk menumpahkan segala isak tangisku.
Sampai saat itu pun aku belum berani untuk bertanya pada ibu atau ayahku, tapi dengan waktu yang tak lama ibu ku menceritakan semuanya, tapi aku tak mampu untuk merubah semua itu, aku terlalu lemah pada waktu itu.
Dan aku pun sudah mulai terbiasa dengan  hal itu, sudah mulai terbiasa bahkan hampi r lupa. Dan beberapa tahun kemudian ayah ku menikah lagi, aku sempat bingung pada saat ayah meminta pendapat padaku tentang wanita yang ia akan  nikahi, aku hanya berfikir selagi itu bisa membuat ayah ku bahagia aku setuju karen a aku pun sadar aku belum bisa memberinya bahagia. Aku mencoba menerima kehadiran ibu baru ku dan bersyukur ia pun sangat baik padaku, bahkan aku sudah dianggap dan diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri. Tapi saat kedua orang tua ku sudah berpisah aku sulit untu bertemu ayahku karena aku tinggal bersama ibu , ia sempat melarangku untuk bertemu ayah ku, bahkan ia pernah marah karena aku bertemu dengan ayah dan juga memakai fasilitas dari ibu tiri ku, waktu itu ibu marah besar karena aku pulang ke rumah memakai motor ibu tiri ku, sampai sampai ia bilang kalau masih bertemu dan menggunakan fasilitasnya aku tak usah lagi tinggal bersama ibu, mendengar itu seperti tertampar rasanya, membayangkannya saja aku tak mampu bagaimana jika benar terjadi? Perceraian itu membuat ibu melarang ku sering bertemu dngan ayah ku sendiri apalagi sampai bisa akrab dengan ibu tiri ku.
Tetapi sungguh recana Allah tak ada duanya.. selalu indah..
Beberapa bulan yang lalu ada kakak dari ayahku meninggal krena menderita stroke cukup lama, semua keluarga besar dari ayah ku berkumpul termasuk ayah ku dan istri barunya juga ada ibu ku. Dibalik kesedihan yang dirasakan keluarga ku karena kematian tersebut ada bahagia yang terselip disitu. Mungkin diluar dugaan, ibu ku mengobrol dengan ibu tiri ku , banyak yang dibicarakan juga tentang aku, tentang bagaimana aku bagaimana ceriobohnya aku dan banyak hal..
Ah rasanya bahagia sekali .. melihat keduanya akrab saling berbagi canda juga tawa.
Ternyata dengan berpisahnya keua orang tua ku aku sama sekali tak kehilangan kasih sayang dari mereka justru kasih sayang itu bertambah karena hadirnya perempuan yang saat ini mendampingi ayahku. Do”a terbaik selalu aku haturkan untu k orang tua ku dan untuk ibu baru ku, semoga bahagia selalu menyertai mereka semua.
Terimakasih Tuhan atasa bahagia yang tak pernah ku sangka ini.

Komentar